Sunday, January 22, 2017

Satuan Acara Penyuluhan Diabetes Melitus (DM)



SATUAN ACARA PENYULUHAN
DIABETES MELITUS (KENCING MANIS)

Pokok Bahasan         : Diabetes Melitus
Sub Pokok Bahasan : Penyakit Diabetes Mellitus
Sasaran                      : Tn. S dan Keluarga
Hari/ Tanggal             : Selasa, 31 Mei 2016

Latar Belakang
Penyakit Kencing Manis / Diabetes Melitus adalah ketidakmampuan tubuh untuk mengubah makanan menjadi energi karena gangguan metabolisme yang terjadi dalam tubuh.   
Diabetes melitus adalah gangguan metabolisme yang ditandai dengan hiperglikemi yang berhubungan dengan abnormalitas metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein yang disebabkan oleh penurunan sekresi insulin atau penurunan sensitivitas insulin atau keduanya dan menyebabkan komplikasi kronis mikrovaskuler, makrovaskuler, dan neuropati.

Tujuan Umum
            Setelah mengikuti penyuluhan pasien dan keluarga pasien mampu memahami tentang penyakit diabetes mellitus dengan ulkus diabetikum.

Tujuan Khusus
            Setelah mengikuti penyuluhan pasien dan keluarga pasien  diharapkan dapat menjelaskan tentang :
1. Pengertian DM
2. Penyebab DM
3. Tanda dan gejala DM
4. Komplikasi DM
5. Pengobatan dan perawatan luka

Materi
1. Pengertian DM
2. Penyebab DM
3. Tanda dan gejala DM
4. Komplikasi DM
5. Pengobatan dan perawatan luka DM

Metode
Ceramah
Diskusi
Tanya jawab

Media
Leaflet & Lembar Balik

Proses pelaksaaan
No
Kegiatan
Respon peserta
1
Pendahuluan
- Memberi salam
- Menyampaikan pokok bahasan
- Menyampaikan tujuan
- Melakukan apersepsi

-Menjawab salam
- Menyimak
- Menyimak
- Menyimak
2
Isi
 Penyampaian materi

-Memperhatikan
3
Penutup
- Diskusi
- Kesimpulan
- Evaluasi
- Memberikan salam penutup

-Menyampaikan jawaban
-Mendengarkan
-Menjawab salam

 

Setting Tempat

Duduk berhadapan

Evaluasi

1. Kegiatan : jadwal, tempat, alat bantu/media, pengorganisasian, proses penyuluhan.
2. Hasil penyuluhan : memberi pertanyaan pada pasien dan keluarga pasien tentang :
a. Apa pengertian, penyebab DM ?
b. Bagaimana tanda dan gejala penderita DM ?
c. Apa saja komplikasi yang mungkin terjadi ?
d. Bagaimana pengobatan dan perawatan luka DM ?


DIABETES MELLITUS


A.    Definisi
Diabetes melitus adalah gangguan metabolisme yang ditandai dengan hiperglikemi yang berhubungan dengan abnormalitas metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein yang disebabkan oleh penurunan sekresi insulin atau penurunan sensitivitas insulin atau keduanya dan menyebabkan komplikasi kronis mikrovaskuler, makrovaskuler, dan neuropati.

B.    Etiologi
Diabetes melitus tipe 1
1.    Faktor genetik
2.    Faktor Imunologi
3.    Faktor lingkungan
Diabetes melitus tipe 2
1.    Usia
2.    Obesitas
3.    Riwayat keluarga

C.    Tipe DM

DM TIPE 1

DM TIPE 2
Penderita menghasilkan sedikit insulin atau sama sekali tidak menghasilkan insulin.
Pankreas tetap menghasilkan insulin, kadang kadarnya lebih tinggi dari batas normal. Tetapi tubuh membentuk kekebalan terhadap efeknya, sehingga terjadi kekurangan insulin relatif.
Umumnya terjadi sebelum usia 30 tahun, yaitu anak-anak dan remaja.
Bisa terjadi pada anak-anak dan dewasa, tetapi biasanya terjadi setelah usia 30 tahun.
faktor lingkungan (infeksi virus atau faktor gizi pada masa kanak-kanak atau dewasa awal) menyebabkan sistem kekebalan menghancurkan sel penghasil insulin di pankreas.
Faktor resiko untuk diabetes tipe 2 adalah obesitas dimana sekitar 80-90% penderita mengalami obesitas.
90 % penghasil insulin (sel beta) mengalami kerusakan permanen. Terjadi kekurangan insulin yang berat dan penderita harus mendapatkan suntikan insulin secara teratur.
Diabetes melitus tipe  2 juga cenderung di turunkan secara genetik dalam keluarga.

D.    Tanda dan gejala
1.    Polipagi (sering merasa lapar)
2.    Polidipsi (sering merasa haus)
3.    Poliuri (sering buang air kecil)
4.    Berat badan menurun
5.    Kelemahan,keletihan dan mengantuk
6.    Infeksi kulit
7.    Timbul gejala ketoasidosis

E.     Pemeriksaan DM
1.   Tes kadar glukosa darah
Macam – macam Tes gula darah (Fransiska, K. 2012) : 
a. Tes gula darah puasa.
Puasa yang dimaksud adalah tidak mengomsumsi makanan selama 10 jam dan dalam keadaan istirahat atau tidur malam. Minum air putih diperbolehkan. Jadi, lakukan tes darah 10 jam setelah makan malam terakhir.
b. Tes gula darah 2 jam setelah makan. Tes gula darah yang dilakukan 2 jam setelah m akan. Ingat, selain makan, diabetisi juga harus minum obat ataupun suntik  insulin seperti biasa. Hal ini dilakukan agar dokter bisa melihat gambaran gula darah dengan dosis obat atau pun insulin.
c. Tes gula darah sewaktu. Gula darah sewaktu adalah gula darah kapan saja,bukan saat puasa ataupun 2 jam setelah makan.tes gula darah sewaktu dipakai sebagai patokan oleh diabetisi untuk mengetahui apakah dirinya mengalami hipoglikemia ataupun hiperglikemia
d. Tes hemoglobin A1c(HbA1c). HbA1c Menggambarkan kondisi gula darah rata-rata selama 3 bulan kebelakang.
Gula darah yang baik :
1)      Puasa                               : 80 sampai < 100 mg/dL
2)      2 jam setelah makan       : 80 sampai < 145 mg/dL
3)      HbA1c                              : < 6,5%
 
Bukan DM
Belum pasti DM
DM
Kadar glukosa darah tidak puasa
Plasma vena
Darah kapiler


< 110
< 80


110- 200
80 - 200


≥ 200
≥ 200
Kadar glukosa darah puasa
Plasma vena
Darah kapiler


< 110
< 90


110- 126
90- 110


≥ 200

≥ 110

2.   Pemeriksaan urine
Pemeriksaan urine dapat memberi dugaan kuat adanya diabetes melitus, tetapi pemeriksaan urine tidak dapat digunakan sebagai dasar diagnosis adanya diabetes melitus. Pada pemeriksaan urine, urine akan dianalisis, mengandung glukosa atau tidak. Jika dalam urine di temukan adanya glukosa, hal itu dapat memperkuat dugaan adanya diabetes melitus.
3.   Tes keton
Keton ditemukan dalam urine jika kadar glukosa darah sangat tinggi atau sangat rendah. Jika hasil tes positif dan kadar glukosa darah juga tinggi, dapat memperkuat dugaan adanya diabetes melitus.
4.   Pemeriksaan mata
Dari hasil pemeriksaan, pada mata yang menampakkan adanya retina yang abnormal, hal ini terjadi pada penderita diabetesmelitus kronis akibat komplikasi penyakit tersebut.

F.     Penatalaksanaan
Tujuan utama terapi adalah mencoba menormalkan aktivitas insulin dan kadar glukosa dalam upaya untuk mengurangi terjadinya komplikasi vaskuler serta neuropatik.
Ada lima komponen dalam penatalaksanaan diabetes, yaitu : diet, latihan, pemantauan, terapi, pendidikan.
1.    Penatalaksanaan Diet
Tujuan utama dari penatalaksanaan diabetes mellitus ini yaitu untuk mengendalikan konsentrasi glukosa darah dalam batas normal. Kadar gula darah yang normal sulit untuk di pertahankan, tetapi semakin mendekati kisaran yang normal, maka kemungkinan terjadi komplikasi sementara maupun jangka panjang adalah semakin berkurang (Mirza Maulana,2015).
   Diet dan pengendalian BB merupakan dasar dari penatalaksanaan diabetes. Tujuannya:
Ø  memberikan semua unsur makanan yang esensial (vitamin dan mineral)
Ø  mencapai dan mempertahankan BB yang sesuai
Ø  memenuhi kebutuhan energi
Ø  mencegah fluktuasi kadar glukosa darah setiap harinya dengan mengupayakan kadar glukosa darah mendekati normal
Ø  menurunkan kadar lemak darah jika meningkat
Ø  Karbohidrat sekitar 60 – 70 % dari jumlah kalori
Ø  Protein minimal 1 gram/Kg BB per hari (untuk dewasa) dan 2-3 gram/Kg BB perhari (untuk anak-anak)
Ø  Lemak sebaiknya dikurangi terutama yang mengandung kolesterol, lemak yang baik adalah lemak tak jenuh contohnya minyak jagung
Syarat diet DM hendaknya dapat:
1) Memperbaiki kesehatan umum penderita
2) Mengarahkan pada berat badan normal
3) Menormalkan pertumbuhan DM anak dan DM dewasa muda
4) Mempertahankan kadar KGD normal
5) Menekan dan menunda timbulnya penyakit angiopati diabetik
6) Memberikan modifikasi diit sesuai dengan keadaan penderita
7) Menarik dan mudah diberikan
      Prinsip diet DM, adalah:
1)  Jumlah sesuai kebutuhan
2)  Jadwal diet ketat
3)  Jenis: boleh dimakan/tidak
2.    Secara Medis
a.  Obat Hiperglikemi Oral (OHO).
Golongan sulfonilurea sering kali dapat menurunkan kadar gula darah secara mencukupi pada penderita diabetes tipe 2, tetapi tidak efektif pada diabetes tipe 1. Contohnya adalah glipizid, gliburid, tolbutamid,dan klorpropamid. Obat ini menurunkan kadar gula darah dengan cara merangsang pelepasan insulin oleh pankreas dan meningkatkan efektivitasnya. OHO biasanya diberikan pada pederita diabetes tipe 2 jika diet dan olahraga gagal menurunkan kadar gula darah dengan cukup. Obat ini kadang bisa diberikan hanya satu kali (pagi hari), meskipun beberapa penderita memerlukan 2-3 kali pemberian. Jika OHO tidak dapat mengontrol kadar gula dalam darah dengan baik, mungkin perlu diberikan dengan suntik insulin.
b.  Insulin
Insulin diperlukan pada keadaan :
1) Penurunan berat badan yang cepat.
2) Hiperglikemia berat yang disertai ketoasidosis.
3) Ketoasidosis diabetik.
4) Gangguan fungsi ginjal atau hati yang berat.
Insulin disuntikkan dibawah kulit kedalam lapisan lemak, biasanya di lengan, paha atau dinding perut. Digunakan jarum yang sangan kecil agar tidak terasa terlalu nyeri. Insulin terdapat dalam 3 bentuk dasar, masing-masing memliki kecepatan dan lama kerja yang berbeda :
a)  insulin kerja cepat
contonya adalah insulin reguler, yang bekerja paling cepat dan paling sebentar. Insulin ini sering kali mulai  menurunkan kadar gula dalam waktu 20 menit, mencapai puncaknya dalam waktu 2-4 jam dan bekerja selama 6-8 jam. Insulin ini sering kali digunakan untuk penderita yang menjalani beberapa kali suntikan setiap harinya dan disuntikkan dalam 15-20 menit sebelum makan.
b)  Insulin kerja sedang
contohnya adalah insulin suspensi seng atau isofan. Mulai bekerja dalam waktu 1-3 jam, mencapai puncak maksimum dalam waktu 6-10 jam, dan bekerja selama 18-26 jam. Insulin ini bisa disuntikkan pada pagi hari untuk memenuhi kebutuhan selama sehari dan dapat disuntikkan pada malam hari untuk memenuhi kebutuhan sepanjang malam.
c)  Insulin kerja lambat
contohnya adalah insulin suspensi seng yang telah dikembangkan. Efeknya baru timbul setelah 6 jam dan bekerja selama 23-6 jam.
c. Debridement
Debridement yaitu menghilangkan jaringan mati atau nekrotik pada luka. Jaringan yang perlu dihilangkan adalah jaringan nekrotik dan slough. Debridement memberikan banyak manfaat diantaranya menghilangkan jaringan yang sudah tidak tervaskularisasi,bakteri,dan juga eksudat sehingga akan menciptakan kondisi luka yang dapat menstimulasi munculnya jaringan sehat.